Rabu, 05 Juni 2013

Tulisan 3 – Cinta dan Perkawinan



a.       Bagaimana cara memilih pasangan
Pernikahan adalah hal mulia, yang dikaruniakan Tuhan. Karena itu, pernikahan harus ditempuh dengan rukun, sehati, setujuan, penuh kasih sayang, percaya seorang akan yang lain, dan bersandar kepada kasih karunia Tuhan. Pernikahan tidak boleh ditempuh atau dimasuki dengan sembarangan, dirusak oleh karena kurang bijaksana, dinista atau dinajiskan; melainkan hendaklah hal itu dihormati dan dijunjung tinggi dengan takut akan Tuhan serta mengingat maksud Allah dalam pernikahan itu. Memilih jodoh atau pasangan hidup bukanlah hal remeh dan mudah. Ada banyak kasus orang yang sudah menikah dan berpikir bahwa pasangannya adalah pasangan hidupnya yang tepat, tetapi pada akhirnya bercerai dengan alasan tidak cocok. Mengapa tidak cocok, bahkan bercerai? Karena mereka tidak saling mengenal sungguh-sungguh? Sebelum menikah, kebiasaan negatif atau kebiasaan buruk tidak ditunjukkan oleh pria dan wanita tersebut. Setelah menikah dan hidup bersamalah, semua kebiasaan negatif tersebut diketahui dan tampak dengan jelas. Seringkali, impian dan harapan tidak sesuai dengan kenyataan! Karena itu, dalam hal mencari dan memilih pasangan hidup, Kekristenan mengajarkan bahwa Tuhan tidak membiarkan manusia bertindak sendiri. Tuhan telah memberikan prinsip-prinsip absolut dalam memilih pasangan hidup dan membangun sebuah keluarga yang harmonis dan bahagia.
Menikah mengandung tanggung jawab yang besar. Oleh karena itu, memilih pasangan hidup juga merupakan hal yang harus benar-benar diperhatikan. Rasulullah SAW telah memberikan teladan dan petunjuk tentang cara memilih pasangan hidup yang tepat dan islami. Insya Allah tips-tips berikut ini akan dapat bermanfaat.
A. Beberapa kriteria memilih calon istri
  1. Beragama islam (muslimah). Ini adalah syarat yang utama dan pertama.
  2. Memiliki akhlak yang baik. Wanita yang berakhlak baik insya Allah akan mampu menjadi ibu dan istri yang baik.
  3. Memiliki dasar pendidikan Islam yang  baik. Wanita yang memiliki dasar pendidikan Islam yang baik akan selalu berusaha untuk menjadi wanita sholihah yang akan selalu dijaga oleh Allah SWT. Wanita sholihah adalah sebaik-baik perhiasan dunia.
  4. Memiliki sifat penyayang. Wanita yang penuh rasa cinta akan memiliki banyak sifat kebaikan.
  5. Sehat secara fisik. Wanita yang sehat akan mampu memikul beban rumah tangga dan menjalankan kewajiban sebagai istri dan ibu yang baik.
  6. Dianjurkan memiliki kemampuan melahirkan anak. Anak adalah generasi penerus yang penting bagi masa depan umat. Oleh karena itulah, Rasulullah SAW menganjurkan agar memilih wanita yang mampu melahirkan banyak anak.
  7. Sebaiknya memilih calon istri yang masih gadis terutama bagi pemuda yang belum pernah menikah. Hal ini dimaksudkan untuk memelihara keluarga yang baru terbentuk dari permasalahan lain.
B. Beberapa kriteria memilih calon suami
  1. Beragama Islam (muslim). Suami adalah pembimbing istri dan keluarga untuk dapat selamat di dunia dan akhirat, sehingga syarat ini mutlak diharuskan.
  2. Memiliki akhlak yang baik. Laki-laki yang berakhlak baik akan mampu membimbing keluarganya ke jalan yang diridhoi Allah SWT.
  3. Sholih dan taat beribadah. Seorang suami adalah teladan dalam keluarga, sehingga tindak tanduknya akan ‘menular’ pada istri dan anak-anaknya.
  4. Memiliki ilmu agama Islam yang baik. Seorang suami yang memiliki ilmu Islam yang baik akan menyadari tanggung jawabnya pada keluarga, mengetahui cara memperlakukan istri, mendidik anak, menegakkan kemuliaan, dan menjamin kebutuhan-kebutuhan rumah tangga secara halal dan baik.
Sebagai catatan tambahan, dianjurkan memilih calon pasangan hidup yang jauh dari silsilah kekerabatan. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga keturunan dari penyakit-penyakit menular atau cacat bawaan kekerabatannya. Selain itu juga dapat memperluas pertalian kekeluargaan dan ukhuwah islamiyah.
Semoga kita semua dibimbing oleh Allah SWT dalam berikhtiar mendapatkan pasangan hidup yang terbaik dan diridhoi-Nya serta dapat ikut serta menemani kita ke surga dunia dan akhirat. Amin.
Sumber : http://cara-muhammad.com/tips/tips-memilih-pasangan-hidup/

b.      Seluk beluk hubungan dalam perkawinan
Pada umumnya salah satu tanda kegagalan suami-istri dalam mencapai kebahagiaan perkawinan adalah perceraian. Perceraian adalah akumulasi dari kekecewaan yang berkepanjangan yang disimpan dalam alam bawah sadar individu. Adanya batas toleransi pada akhirnya menjadikan kekecewaan tersebut muncul kepermukaan, sehingga keinginan untuk bercerai begitu mudah.
Masalah diseputar perkawinan atau kehidupan berkeluarga antara lain:
·         Kesulitan ekonomi keluarga yang kurang tercukupi.
·         Perbedaan watak.
·         Temperamen dan perbedaan kepribadian yang sangat tajam antara  suami dan istri.
·         Ketidakpuasan dalam hubungan seks.
·         Kejenuhan rutinitas.
·         Hubungan antara keluarga besar yang kurang baik.
·         Adanya istilah WIL (wanita idaman lain) atau PIL (pria idaman lain).
·         Masalah harta warisan.
·         Menurunnya perhatian kedua belah pihak.
·         Domonasi dan intervensi orang tua atau mertua.
·         Kesalahpahaman antara kedua belah pihak.
Dari salah satu masalah diatas yaitu kesalahpahaman yang menyebabkan pasangan menjadi tersinggung, sehingga terkadang memicu adanya perceraian, merupakan masalah yang sering terjadi dalam kehidupan rumah tangga. Karena kesalahpahaman itulah yang terkadang pasangan enggan untuk membuka komunikasi dengan pasangannya yang kemudian menimbulkan misskomunikasi. Tanpa mereka sadari dengan keadaan seperti itu malah akan membuat mereka sulit dalam menghadapi problem apapun. Komunikasi yang intern dan baik akan melahirkan saling keterbukaan dan suasana keluarga yang nyaman.
Allah juga memerintahkan kepada suami-istri untuk selalu berbuat baik.
Suami dan istri sering beranggapan bahwa masalah yang timbul akan
selesai dengan sendirinya, asalkan bersabar dan menyediakan waktu yang panjang.
Namun kenyataannya masalah yang didiamkan bukan membaik, malah memburuk seiring berjalannya waktu yang lama. Kejengkelan makin menumpuk dan penyelesaian makin jauh di mata, kareana masalah menjadi seperti benang kusut dan tidak tahu lagi harus memulainya dari mana. Tabungan cinta cenderung menyusut seiring dengan berkecamuknya masalah dengan berkurangnya cinta dan kasih sayang, berkurang pulalah semangat untuk menyelesaikan masalah. Pada akhirnya ketidakpedulian menggantikan cinta dan makin menyesuaikan diri dalam kehidupan yang tidak sehat ini. Dengan kata lain antara suami dan istri sudah menemukan cara yang efektif untuk menyelesaikannya tapi tidak dilakukan sehingga dapat menimbulkan perceraian.

c.       Penyesuaian dan pertumbuhan dalam perkawinan
Perkawinan tidak berarti mengikat pasangan sepenuhnya. Dua individu ini harus dapat mengembangkan diri untuk kemajuan bersama. Keberhasilan dalam perkawinan tidak diukur dari ketergantungan pasangan. Perkawinan merupakan salah satu tahapan dalam hidup yang pasti diwarnai oleh perubahan. Dan perubahan yang terjadi dalam sebuah perkawinan, sering tak sederhana. Perubahan yang terjadi dalam perkawinan banyak terkait dengan terbentuknya relasi baru sebagai satu kesatuan serta terbentuknya hubungan antarkeluarga kedua pihak. Relasi yang diharapkan dalam sebuah perkawinan tentu saja relasi yang erat dan hangat. Tapi karena adanya perbedaan kebiasaan atau persepsi antara suami-istri, selalu ada hal-hal yang dapat menimbulkan konflik. Dalam kondisi perkawinan seperti ini, tentu sulit mendapatkan sebuah keluarga yang harmonis. Pada dasarnya, diperlukan penyesuaian diri dalam sebuah perkawinan, yang mencakup perubahan diri sendiri dan perubahan lingkungan. Bila hanya mengharap pihak pasangan yang berubah, berarti kita belum melakukan penyesuaian. Banyak yang bilang pertengkaran adalah bumbu dalam sebuah hubungan. Bahkan bisa menguatkan ikatan cinta. Hanya, tak semua pasangan mampu mengelola dengan baik sehingga kemarahan akan terakumulasi dan berpotensi merusak hubungan.

d.      Perceraian dan pernikahan kembali
Ini adalah gambaran yang indah dari harapan dan janji, tapi kemewahan itu tak lantas menjadikan pernikahan itu sebagai pernikahan yang penuh kasih. Sebagaimana kita tahu, hanya dalam satu dekade saja “pernikahan millennium ini” terurai seperti pernikahan lain yang berakhir dengan kisah perselingkuhan dan perceraian yang menyedihkan. Yang lebih menyedihkan lagi, yaitu bahwa Diana berasal dari sebuah keluarga yang berpisah. Orang tuanya bercerai ketika Diana masih sangat muda. Dan itulah saat dimana ibunya meninggalkan rumah selamanya. Kepergian ibunya membawa pengaruh yang sangat besar dalam kehidupan Diana. Ia seolah memiliki trauma terhadap perceraian. Setelah pertemuannya yang pertama dengan Pangeran Charles, Diana berkata pada teman-temannya bahwa ia akan menikah dengannya. Teman-temannya pun bertanya-tanya mengapa Diana berkata demikian, lalu Diana menjawab, “ Karena dia adalah satu-satunya pria di planet ini yang tidak diizinkan untuk menceraikan saya.”
Dari kisah hidup Putri Diana kita dapat melihat dengan jelas bahwa tidak ada janji, kebijaksanaan, atau kekayaan manusia sekalipun yang dapat menjaga keutuhan tali pernikahan. Dosa telah terlalu  banyak mempengaruhi kehidupan kita. Tetapi Alkitab mempunyai kunci untuk menjadikan suatu pernikahan bahagia dan produktif dan menghindarkan bencana perceraian. Buku Pernikahan, Perceraian, & Pernikahan Kembali dapat membantu kita untuk menemukan setiap kunci yang disediakan Tuhan untuk menjaga keutuhan sebuah pernikahan. Buku ini tidak hanya memaparkan prinsip-prinsip Alkitabiah yang dapat menjaga pernikahan, namun juga menyediakan nasehat-nasehat praktis seputar pernikahan, perceraian, & pernikahan kembali.

e.       Single Life
Beberapa Pendapat dan Alasan Keliru Seputar Hidup Menjadi Single ---Tidak ada yang salah dengan pilihan seseorang untuk memilih hidup sendiri tanpa pasangan atau Single. Karena setiap pilihan pastinya ada konsekuensi dan tanggung jawab sendiri yang sudah siap ia pikul, termasuk pilihan untuk menjadi Single. Sayangnya, sebagian besar orang yang memilih hidup menjadi single di dasarkan kepada alasan dan pendapat yang keliru. Tidak sedikit dari para single berusaha menutupi perasaan hati yang tertekan karena menjadi single dengan alasan bohong dan pendapat keliru. Dan berikut adalah Beberapa Pendapat dan Alasan Keliru Seputar Hidup Menjadi Jomblo yang sering di ucapkan oleh para Jomblo ketika ia ditanya alasan memilih hidup menjadisingle

Menjadi Single bisa jauh lebih bahagia
Memang benar jadi single membuat seseorang lebih fokus pada mimpi dan keinginannya. Sehingga kebahagiaan juga mudah diraih oleh si single. Namun punya pacar juga tetap bisa mendukung mimpi itu kok. Tinggal bagaimana caranya Anda pintar-pintar memprioritaskan urusan mimpi dan hubungan asmara.

Tak ada waktu buat pacaran
Alasan fokus pada karir, menyeimbangkan persahabatan, dan menikmati waktu sendiri sering dipakai oleh si single. Mereka menganggap kesibukan adalah faktor kenapa sampai sekarang si jomblo tak juga punya pacar. Faktanya, cinta dan pacar tak akan menyita lebih banyak waktu mereka lho.

   Jomblo itu tipe seorang yang mandiri
Ada banyak hal yang bisa dilakukan oleh single seorang diri. Namun sebenarnya beberapa hal lain justru lebih baik dijalani bersama pasangan. Menggunakan alasan sudah mandiri hanya merupakan bentuk kebohongan. Sebab mereka tidak bisa selamanya melakukan sesuatu sendirian.

Pacaran itu merepotkan
Memang setiap hubungan asmara memiliki masalah tertentu. Tetapi masa setiap hari orang pacaran berhadapan dengan problem pelik yang tak ada habisnya? Jadi para single jangan sekali-kali menggunakan alasan ini untuk membela statusnya.

Lebih nyaman dengan Teman Tapi Mesra (TTM)
TTM atau teman tapi mesra biasanya adalah hubungan asmara yang paling sering dijalani si single. Mereka bilang TTM jauh lebih nyaman daripada pacaran yang sifatnya mengikat. Well, justru TTM ini lebih riskan karena tidak memiliki kejelasan di dalam hubungan.

Sumber :
http://cara-muhammad.com/tips/tips-memilih-pasangan-hidup/
http://www.akhirzaman.org/buku-buku/1001-pernikahan-perceraian-pernikahan-kembali
http://www.akhirzaman.org/buku-buku/1001-pernikahan-perceraian-pernikahan-kembali
http://dbecinta.blogspot.com/2012/11/beberapa-pendapat-dan-alasan-keliru-seputar-hidup-menjadi-jomblo.html

Tulisan 2 – Hubungan Interpersonal



Hubungan interpersonal adalah dimana ketika kita berkomunikasi, kita bukan sekedar menyampaikan isi pesan, tetapi juga menentukan kadar hubungan interpersonalnya. Jadi ketika kita berkomunikasi kita tidak hanya menentukan content melainkan juga menentukan relationship. Ketika akan menjalin hubungan interpersonal, akan terdapat suatu proses dan biasanya dimulai dengan “Ketertarikan interpersonal (Interpersonal Attraction)”. Menurut Baron dan Byrne (2006), ”Interpersonal Attraction” adalah penilaian seseorang terhadap sikap orang lain, dimana penilaian ini dapat diekspresikan melalui suatu dimensi, dari strong liking sampai dengan strong dislike atau dari yang biasa menjadi luar biasa. Dari segi psikologi komunikasi, kita dapat menyatakan bahwa makin baik hubungan interpersonal, makin terbuka orang untuk mengungkapkan dirinya; makin cermat persepsinya tentang orang lain dan persepsi dirinya; sehingga makin efektif komunikasi yang berlangsung diantara komunikan.

Hubungan interpersonal, menurut saya sangatlah berguna tanpa adanya hubungan ini kita tidak akan bisa berkomunikasi dengan orang lain. Selain itu lewat hubungan interpersonal jugalah banyak informasi yang akan kita dapatkan, bukan sekedar itu hubungan interpersonal yang baik juga akan membawa peluang pekerjaan bagi kita. Karena interpesonaal yang baik adalah salah satu kriteria utama perekrutan seorang calon pegawai baik negeri maupun swasta. “Hubungan Interpersonal sangat penting, bahkan sangat menentukan kesehatan mental seseorang. Jika seseorang tak berhasil mengembangkan hubungan interpersonalnya secara sehat, ia juga akan gagal berkembang menjadi pribadi yang sehat” ( Sumber : Widyarini, Nilam. 2009. Membangun Hubungan Antar Manusia. Jakarta : Elex Media).

     
a)    Model-model hubungan interpersonal

  1.     Pertukaran Sosial (Social Exchange)
Menurut teori ini manusia saling menjalin hubungan dengan tujuan memuaskan kebutuhan masing-masing. Setiap orang mengharapakan sesuatu dari hubungannya dengan orang lain. Kalau ia memiliki cukup kebebasan ia akan memutuskan hubungan tersebut, sebaliknya, kalau ia tidak dapat keluar dari situasi hubungan tidak adil yang menimbulkan penderitaan, ia akan terjatuh masuk kedalam psikopatologi.
(Sumber : Supratiknya, A. 1995. Mengenal Perilaku Abnormal. Yogyakarta : Kanisius)

2.    Model peranan
Model peranan menganggap hubungan interpersonal sebagai panggung sandiwara. Disini setiap orang harus memerankan peranannya sesuai dengan naskah yang telah dibuat oleh masyarakat. Hubungan interpersonal berkembang baik bila setiap individu bertidak sesuai dengan peranannya. Kemampuan memerankan peranan tertentu, serta mampu menghindari konflik peranan bila individu tidak sanggup mempertemukan berbagai peranan yang kontradiktif.

3.    Model Permainan
Hubungan interpersonal sebagai ajang menampilkan salah satu aspek kepribadian individu (orang tua, dewasa, anak). Dikenai sebagai analisis transaksional. Model ini menerangkan bahwa dalam berhubungan individu-individu terlibat dalam bermacam permaianan. Kepribadian dasar dalam permainan ini dibagi dalam 3 bagian yaitu kepribadian orang tua (aspek kepribadian yang merupakan asumsi dan perilaku yang diterima dari orang tua atau yang dianggap sebagi orang tua). Lalu, kepribadian orang dewasa (bagian kepribadian yang mengolah informasi secara rasional). Terakhir, kepribadian anak (kepribadian yang diambil dari perasaan dan pengalaman kanak-kanak yang mengandung potensi intuisi, spontanitas, kreativitas dan kesenangan).

4.    Model Interaksional
Hubungan interpersonal merupakan suatu sistem yang memiliki sifat-sifat struktural, integrali dan medan yang masing-masing saling terkait. Model ini memandang hubungan interpersonal sebagai suatu sistem. Semua sistem terdiri dari subsistem-subsistem yang saling tergantung dan bertindak bersama sebagai suatu kesatuan. Selanjutnya, semua sistem mempunyai kecenderungan untuk memelihara dan mempertahankan kesatuan. Bila ekuilibrium dari sistem terganggu, segera akan diambil tindakannya. Setiap hubungan interpersonal harus dilihat dari tujuan bersama, metode komunikasi, ekspektasi dan pelaksanaan peranan.

a.       Cara memulai hubungan
Pembentukan
Pembentukan kesan dan dan ketertarikan interpersonal dalam memulai hubungan. Adapun tahap-tahap untuk menjalin hubungan interpersonal :
Tahap ini sering disebut juga dengan tahap perkenalan. Beberapa peneliti telah menemukan hal-hal menarik dari proses perkenalan. Fase pertama, “fase kontak yang permulaan”, ditandai oleh usaha kedua belah pihak untuk menangkap informasi dari reaksi kawannya atau lawannya. Masing-masing pihak berusaha menggali secepatnya identitas, sikap dan nilai pihak yang lain. Bila mereka merasa ada kesamaan, mulailah dilakukan proses mengungkapkan diri. Pada tahap ini informasi yang dicari meliputi data demografis, usia, pekerjaan, tempat tinggal, keadaan keluarga dan sebagainya. Menurut Charles R. Berger informasi pada tahap perkenalan dapat dikelompokkan pada tujuh kategori (informasi demografis, sikap dan pendapat (tentang orang atau objek), rencana yang akan datang, kepribadian, perilaku pada masa lalu, orang lain, terakhir hobi dan minat).
Peneguhan Hubungan
Untuk memelihara dan memperteguh hubungan interpersonal, maka diperlukantindakan-tindakan untuk memelihara keseimbangan. Dalam memelihara keseimbangan terdapat empat faktor, yaitu  keakraban, keakraban ialah pemenuhan kebutuhan akan kasih sayang antara komunikan dan  komunikator. Control berarti kesepakatan antara kedua belah pihak yang melakukan komunikasi dan menentukan siapakah yang lebih dominan didalam komunikasi tersebut. Respon yang tepat atau feedback (umpan balik) yang akan terima jangan sampai komunikator salah memberikan informasi sehingga komunikan tidak mampu memberikan feedback yang tepat. Terakhir, nada emosional yang tepat atau keserasian suasana emosi saat komunikasi sedang berlangsung.
Hubungan interpersonal akan terperlihara apabila kedua belah pihak sepakat tentang tingkat keakraban yang diperlukan. Faktor kedua adalah kesepakatan tentang siapa yang akan mengontrol siapa, dan bilamana. Faktor ketiga adalah ketepatan respon. Hubungan interpersonal berdasarkan jumlah individu yang terlibat, dibagi menjadi 2, yaitu hubungan diad dan hubungan triad. Hubungan diad merupakan hubungan atara dua individu. Sedangkan hubungan triad merupakan hubungan antara tiga orang. Hubungan interpersonal berdasarkan tujuan yang ingin dicapai, dibagi menjadi 2, yaitu hubungan tugas dan hubungan sosial.
Hubungan tugas merupakan sebuah hubungan yang terbentuk karena tujuan menyelesaikan sesuatu yang tidak dapat dikerjakan oleh individu sendirian. Sedangkan hubungan sosial merupakan hubungan yang tidak terbentuk dengan tujuan untuk menyelesaikan sesuatu. Hubungan interpersonal berdasarkan jangka waktu juga dibagi menjadi 2, yaitu hubungan jangka pendek dan hubungan jangka panjang. Hubungan jangka pendek merupakan hubungan yang hanya berlangsung sebentar. Sedangkan hubungan jangka panjang berlangsung dalam waktu yang lama.

b. Memulai Hubungan ( Pembentukan kesan dan ketertarikan Interpersonal dalam memulai suatu hubungan)
Adapun tahap-tahap dalam hubungan interpersonal yakni meliputi :
1. Pembentukan.
Tahap ini sering disebut juga dengan tahap perkenalan. Beberapa peneliti telah menemukan hal-hal menarik dari proses perkenalan. Fase pertama, “fase kontak yang permulaan”, ditandai oleh usaha kedua belah pihak untuk menangkap informasi dari reaksi kawannya. Masing-masing pihak berusaha menggali secepatnya identitas, sikap dan nilai pihak yang lain. Bila mereka merasa ada kesamaan, mulailah dilakukan proses mengungkapkan diri. Pada tahap ini informasi yang dicari meliputi data demografis, usia, pekerjaan, tempat tinggal, keadaan keluarga dan sebagainya.
Menurut Charles R. Berger informasi pada tahap perkenalan dapat dikelompokkan pada tujuh kategori, yaitu:
a)      informasi demografis.
b)     sikap dan pendapat (tentang orang atau objek).
c)      rencana yang akan datang.
d)     kepribadian.
e)      perilaku pada masa lalu.
f)      orang lain serta,
g)     hobi dan minat.
Peneguhan Hubungan.
Hubungan interpersonal tidaklah bersifat statis, tetapi selalu berubah. Untuk memelihara dan memperteguh hubungan interpersonal, diperlukan tindakan-tindakan tertentu untuk mengembalikan keseimbangan. Ada empat faktor penting dalam memelihara keseimbangan ini, yaitu:
a)  Keakraban (pemenuhan kebutuhan akan kasih sayang antara komunikan dan komunikator).
b) Kontrol (kesepakatan antara kedua belah pihak yang melakukan komunikasi dan menentukan siapakah yang lebih dominan didalam komunikasi tersebut).
c) Respon yang tepat (feedback atau umpan balik yang akan terima jangan sampai komunikator salah memberikan informasi sehingga komunikan tidak mampu memberikan feedback yang tepat).
d) Nada emosional yang tepat (keserasian suasana emosi saat komunikasi sedang berlangsung).

c.       Intimasi dan Hubungan Pribadi
Sullivan (Prager, 1995) mendefinisikan intimasi sebagai bentuk tingkah laku penyesuaian seseorang untuk mengekspresikan akan kebutuhannya terhadap orang lain. Intimasi juga adalah salah satu atribut yang paling menonjol dalam suatu hubungan intim daripada hubungan pribadi yang lain. Keintiman (intimacy) sangat berkaitan dengan derajat kecintaan, kepercayaan, kepuasan, tanggung jawab dan pengertian pasangan dalam hubungan yang dekat (intim). Dalam suatu hubungan juga perlu adanya companionate love, passionate love dan intimacy love, atau yang dikenal dengan segitiga cinta Stenberg. Apabila salah satu komponen cinta tersebut telah hilang dari satu hubungan, akan muncul rasa ketidak nyamanan antar salah satu pihak. Ini yang akan menimbulkan sebuah perpisahan pada setiap pasangan.

d)    Intimasi dan Pertumbuhan
Steinberg (1993) berpendapat bahwa suatu hubungan intim adalah sebuah ikatan emosional antara dua individu yang didasari oleh kesejahteraan satu sama lain, keinginan untuk memperlihatkan pribadi masing-masing yang terkadang lebih bersifat sensitif serta saling berbagi kegemaran dan aktivitas yang sama.
Faktor-faktor yang menumbuhkan hubungan interpersonal yang baik antara lain ialah berhubungan dengan orang lain tanpa menilai dan tanpa berusaha mengendalikan, menumbuhkan sikap percaya pada diri orang lain atau kejujuran yang menumbuhkan sikap percaya.sikap yang mengurangi sikap defensive dalam komunikasi amat besar pengaruhnya dalam menumbuhkan komunikasi interpersonal yang efektif. Untuk bertumbuh dalam keintiman, yang terutama adalah cinta. Keintiman tidak akan bertumbuh jika tidak ada cinta . Keintiman berarti proses menyatakan siapa kita sesungguhnya kepada orang lain. Keintiman adalah kebebasan menjadi diri sendiri. Keintiman berarti proses membuka topeng kita kepada pasangan kita. Bagaikan menguliti lapisan demi lapisan bawang, kita pun menunjukkan lapisan demi lapisan kehidupan kita secara utuh kepada pasangan kita.
Keinginan setiap pasangan adalah menjadi intim. Kita ingin diterima, dihargai, dihormati, dianggap berharga oleh pasangan kita. Kita menginginkan hubungan kita menjadi tempat ternyaman bagi kita ketika kita berbeban. Tempat dimana belas kasihan dan dukungan ada didalamnya. Namun, respon alami kita adalah penolakan untuk bisa terbuka terhadap pasangan kita. Jadi, sangat penting suatu keintiman dalam menjalin hubungan. Ketika keintiman hilang, hubungan menjadi hambar. 




Sumber :
http://psikologi.or.id/mycontents/uploads/2010/11/hubinterpersonal.pdf
Supratiknya, A. 1995. Mengenal Perilaku Abnormal. Yogyakarta : Kanisius

Tulisan 1 - penyesuaian diri dan pertumbuhan



A.    konsep penyesuaian diri
Penyesuaian diri adalah usaha manusia untuk mencapai harmoni pada diri sendiri dan pada lingkungannya. Sehingga rasa permusuhan, dengki, iri hati, pransangka, depresi, kemarahan, dan lain-lain emosi negatif sebagai respon pribadi yang tidak sesuai dan kurang efisien bisa dikikis habis (Kartini Kartono, 2002:56). Kemudian, Penyesuaian diri dapat didefinisikan sebagai interaksi Anda yang kontinu dengan diri Anda sendiri, dengan orang lain, dan dengan dunia Anda (Calhoun dan Acocella dalam Sobur, 2003:526). Lalu, Penyesuaian diri (adjustment) atau dapat dikatakan juga sebagai adaptasi, merupakan suatu proses dimana organisme yang agak sederhana mematuhi tuntutan-tuntutan lingkungan. (Sumber : Semiun, Y. 2006. Kesehatan Mental 1. Yogyakarta: Kanisius). Sedangkan menurut,  Schneiders berpendapat bahwa penyesuaian diri dapat ditinjau dari tiga sudut pandang, yaitu: penyesuaian diri sebagai adaptasi (adaptation), penyesuaian diri sebagai bentuk konformitas (conformity), dan penyesuaian diri sebagai usaha penguasaan (mastery).
Menurut saya Penyesuaian diri dapat diartikan atau ditelaah sebagai suatu proses yang bersifat dinamis, bertujuan untuk menghadapi berbagai perubahan yang terjadi dalam diri individu agar terjadi penyesuaian hubungan yang lebih menyatu  antara diri individu tersebut dengan lingkungannya. Dengan demikian diharapkan manusia dapat membentuk suatu hubungan yang menyenangkan antara dirinya dan lingkungan barunya. Penyesuaian diri juga dapat diartikan sebagai adaptasi. Salah satu ciri makhluk hidup adalah beradaptasi atau menyesuaikan diri terhadap lingkungannya untuk dapat mempertahankan eksistensi kehidupannya. Kemampuan untuk menyesuaikan diri terhadap lingkungan atau pun perubahan-perubahan yang terjadi di sekitar kita adalah sebuah keharusan.
Pada dasarnya kemampuan pribadi untuk menyerasikan atau menyesuaikan diri dibentuk oleh kebudayaan yang dianut oleh individu yang bersangkutan. Dan dalam proses penyesuaian diri, sebaiknya terlebih dahulu kita mengenali diri kita sendiri, setidaknya kita mengetahui apakah kita akan mampu beradaptasi dengan lingkungan kita. Masih ingat dengan pengertian adaptasi?  Adaptasi adalah dapat mempertahankan eksistensinya atau bisa survive dan memperoleh kesejahteraan jasmaniah, bukan hanya jasmaniah tetapi dapat memperoleh kesejahteraan  rohaniah.



B.    Pertumbuhan personal
Setiap individu pasti akan mengalami pembentukan karakter atau kepribadian. Inilah yang dinamakan pertumbuhan. Dan hal tersebut membutuhkan proses yang sangat panjang. Faktor – faktor yang mempengaruhi perkembangan dan pertumbuhan individu diantaranya  adalah faktor genetik yang menentukan beberapa karakteristik seperti jenis  kelamin, pertumbuhan fisik, sikap tubuh dan beberapa keunikan psikologis seperti sikap pendiam dan temperamen, lalu faktor eksternal atau lingkungan yang mempengaruhi individu setiap hari mulai konsepsi sampai akhir hayatnya, dan sangat menentukan tercapai atau tidaknya potensi bawaan. Dari semua faktor-faktor  di atas, paling penting adalah pengaruh dari lingkungan sekitar seperti keluarga dan masyarakat sekitar akan memberikan pertumbuhan pesat bagi suatu individu. Dengan demikian, maka terbentuklah individu yang sesuai dan dapat menyesuaikan dengan lingkungan sekitarnya.
Berikut adalah konsep yang berkaitan dengan pertumbuhan personal :
1.     Penekanan pertumbuhan diri
Pertumbuhan sendiri adalah perubahan secara fisiologis sebagai hasil dari proses pematangan fungsi-fungsi fisik yang berlangsung secara normal pada anak yang sehat hingga dewasa (akhir hayat) pada waktu yang normal. Pertumbuhan dapat juga diartikan sebagai proses transmisi dari konstitusi fisik (keadaan tubuh atau keadaan jasmaniah), yang herediter dalam bentuk proses aktif secara berkesinambungan. Jadi, pertumbuhan berkaitan dengan perubahan kuantitatif yang menyangkut peningkatan ukuran dan struktur biologis.
2.    Variasi dalam pertumbuhan
Tidak selamanya individu berhasil dalam melakukan penyesuaian diri, karena kadang-kadang ada rintangan-rintangan tertentu yang menyebabkan tidak berhasil melakukan penyesuaian diri. Rintangan-rintangan itu mungkin terdapat dalam dirinya atau mungkin diluar dirinya. Hal ini yang menyebabkan mengapa adanya variasi dalam pertumbuhan.
3.    Kondisi-kondisi untuk bertumbuh
Kondisi jasmaniah seperti pembawa dan strukrur atau konstitusi fisik dan temperamen sebagai disposisi yang diwariskan, aspek perkembanganya secara intrinsik berkaitan erat dengan susunan atau konstitusi tubuh. Shekdon mengemukakan bahwa terdapat kolerasi yang tinggi antara tipe-tipe bentuk tubuh dan tipe-tipe tempramen (Surya, 1977). Misalnya orang yang tergolong ekstomorf yaitu yang ototnya lemah, tubuhnya rapuh, ditandai dengan sifat-sifat menahan diri, segan dalam aktivitas sosial, dan pemilu. Karena struktur jasmaniah merupakan kondisi primer bagi tingkah laku maka dapat diperkirakan bahwa sistem saraf, kelenjar, dan otot merupakan faktor yang penting bagi proses penyesuaian diri. Beberapa penelitian menunjukan bahwa gangguan dalam sisitem saraf, kelenjar, dan otot dapat menimbulkan gejala-gejala gangguan mental, tingkah laku, dan kepribadian. Dengan demikian, kondisi sistem tubuh yang baik merupakan syaraf bagi tercapainya proses penyesuaian diri yang baik. Disamping itu, kesehatan dan penyakit jasmaniah juga berhubungan dengan penyesuaian diri, kualitas penyesuaian diri yang baik hanya dapat diperoleh dan dipelihara dalam kondisi kesehatan jasmaniah yang baik pula. Ini berarti bahwa gangguan penyakit jasmaniah yang diderita oleh seseorang akan mengganggu proses penyesuaian dirinya.

Sumber:
Kartini Kartono, 2002. Psikologi Perkembangan. Jakarta : Rineka Cipta
Feist, J., & Feist, G. J. (2009).Psikologi Kepribadian (Terjemahan).Salemba Humanika:Jakarta
Sobur, Alex.2009.Psikologi Umum.Pustaka Setia:Bandung
http://www.psychologymania.com/2012/09/pengertian-penyesuaian-diri.html
http://lib.uin-malang.ac.id/thesis/chapter_ii/08410141-divie-oktaviana.ps