Kamis, 28 Maret 2013

Tugas Kesehatan Mental (Tulisan 3)


KESEHATAN MENTAL (Tulisan 3)

Penyesuaian diri kesehatan mental

Penyesuaian diri merupakan proses yang berlangsung sepanjang hayat. Dengan demikian penyesuaian diri yang efektif dapat diukur dari seberapa baik individu dalam menghadapi dan mengatasi kondisi yang senantiasa berubah.

Menurut kartono (2000), penyesuaian diri adalah usaha manusia untuk mencapai harmoni pada diri sendiri dan lingkungannya, sehingga rasa permusuhan, kemarahan, depresi dan emosi negative lain sebagai respon pribadi yang tidak sesuai dan kurang efisien bisa dikikis. Penyesuaian diri juga dapat diartikan sebagai penguasaan yaitu, memiliki kemampuan untuk membuat rencana dan mengorganisir respon-respon sedemikian rupa sehingga dapat menanggapi segala macam konflik, kesulitan masalah hidup dan frustasi-frustasi dengan cara efisien.

Haber dan Runyon (1984), mengusulkan beberapa karakteristik penyesuaian diri yang efektif:
  1. Persepsi yang tepat terhadap realita: mampu mengenali konsekuensi dari tindakan dan mengarahkan perilaku yang sesuai, mampu menyusun dan memodifikasi tujuan yang realistic dan berusahan untuk mencapai tujuan tersebut. 
  2. Mampu menghadapi dan mengatasi stress dan kecemasan. 
  3. Memiliki gambaran diri (self image) yang positif: menyadari kekuatan dan kelemahan yang dimiliki, mengharagai kekuatan yang dimiliki dan menerima kelemahan dengan cara yang positif. 
  4. Mampu mengekspresikan perasaan secara terkendali. Orang yang sehat secara emosional mampu merasakan dan mengekspresikan nuansa emosi dan perasaan sehingga memungkinkan untuk membangun dan memilihara hubungan interpersonal yang penuh makna. 
  5. Memiliki hubungan interpersonal yang baik: mampu membina keakraban dalam hubungan sosialnya, nyaman berinteraksi dengan lingkungan menghargai dan dihargai orang lain.
Konflik dan frustrasi yang bersumber dari faktor internal dan eksternal menjadi sumber stress (Coleman, 1950). Shoben (dalam Korchin, 1976) menyebutkan istilah penyesuaian integrative (integrative adjustment), yang ditanda oleh pengendalian diri, tanggungjawab pribadi dan sosial, minat sosial yang demokratik, dan ide-ide ideal.


Pertumbuhan personal

Gender tentunya dapat membuat stereotip tersendiri bagi pria dan perempuan. Stereotip inilah yang akan menjadi identitas dari individu itu dalam berhubungan dengan sesamanya. Sosialisasi peran gender oleh orang tua sejak masa kanak-kanak akan membuat seseorang mengkategorisasikan dirinya sebagai perempuan atau pria dengan hal-hal yang dianggap sesuai dengan peran gendernya. Dengan demikian ada pembatasan dalam hal peran yang dinilai cocok untuk pria dan perempuan. Stereotip perempuan berbeda dengan stereotip pria. Stereotip pria anatara lain : memiliki kemampuan memimpin, kompetitif, aktif, dominan, maskulin, analitis dan independen. Stereotip perempuan mengutamakan perasaan, hangat, mencintai anak-anak, malu, pengertin, lembut, loyal dan simpatik. Stereotip jenis kelamin ini member nilai tinggi pada pria untuk sifat-sifat yang berhubungan dengan kecakapan seperti kepemimpinan, obyektifitas dan kemandirian sedangkan perempuan untuk sifat-sifat yang berhubungan dengan kehangatan dan kelembutan.

Daftar pustaka :
-          Skripsi salah satu mahasiswa UI tahun 2004 ; Memperkenalkan Psikoanalisa
            Sears, D. O., Freedman, J. L. & Peplau, L. A. 1994. Psikologi Sosial. Erlangga : Jakarta.
            Kartono, K. 2000. Hygine Mental. Mandar Maju: Bandung.
             

Tidak ada komentar:

Posting Komentar